MATA KULIAH
: PMM-A (Penyehatan Makanan dan Minuman-A)
DOSEN : Khiki
Purnawati Kasim, S.ST., M.Kes
“LAPORAN PEMERIKSAAN
LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN SIANIDA (Cn) PADA MAKANAN”

Oleh :
Po.71.4.221.16.1.043
D.IV / II.B
KELOMPOK 4
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D-IV
2018
LAPORAN PEMERIKSAAN TIMBAL (Pb) DAN SIANIDA (Cn) PADA MAKANAN
A.
DASAR TEORI
Logam berat adalah unsur-unsur kimia bobot jenis lebih besar
dari 5 gr/cm3, terletak disudut kanan bawah system periodik,
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsure S biasanya bernomor atom 22
sampai 92 dari perioda 4 sampai 7 (mietinnen, 1977).
Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadium (Cd), dan
merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya. Afinitas yang tinggi
terhadap unsure S menyebabkan logam ini menyerang ikatan berelang dalam enzim,
sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif.
Logam berat yang masuk kedalam system perairan, baik di
sungai maupun dilautan akan dipindahkan dari badan airnya melalui
organism-organisme perairan (Bryan, 1976).
1. Timbal (Pb)
Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian utama dalam
segi kesehatan, karena dampaknya pada sejumlah besar orang akibat keracunan
makanan atau udara yang terkontaminasi Pb memiliki sifat toksik berbahaya.
Timbal bisa terkandung di dalam air, makanan, dan udara. Pb di atmosfer berasal
dari senyawa hasil pembakaran bensin reguler dan premium yang tidak sempurna.
Logam berat timbal
(Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh masyarakat
awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri nonpangan
dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah jenis
logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari
pertambangan.
Pb adalah
logam berat yang terdapat secara alami di kerak bumi. Keberadaan timbal bisa
juga berasal dari hasil aktivitas manusia, yang mana jumlahnya 300 kali lebih
banyak dibandingkan Pb alami yang terdapat pada kerak bumi. Pb terkonsentrasi
dalam deposit bijih logam. Unsure Pb digunakan dalam bidang industri
modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang tahan korosi, bahan pembuat cat,
baterai, dan campuran bahan bakar bensin tetraetil. Timbale (Pb) adalah logam
yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang toksik (beracun) terhadap
manusia. Timbale (Pb) dapat masuk kedalam tubuh melalui konsumsi makanan,
minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.
2.
Sianida
(Cn)
Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung (C=N), yang terdiri dari 3
buah atom karbon yang berikatan dengan atom hidrogen. Secara spesifik, sianida
adalah anion CN-. Senyawa ini ada dalam bentuk gas, liquid dan solid, setiap
senyawa tersebut dapat melepaskan anion CN- yang sangat beracun. Sianida dapat
terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia dan memiliki sifat racun yang
sangat kuat dan bekerja dengan cepat. Contohnya adalah HCN (hidrogen sianida)
dan KCN (kalium sianida) Sianida terdiri dari banyak senyawa
dengan berbagai tingkat kompleksitas kimia dan toksisitas, kesemuanya
mengandung gugus CN, saat manusia dihadapkan dalam gas, cair, dan bentuk padat
dari berbagai sumber alam dan antropogenik. Setiap hari, orang dapat terkena
sianida tingkat rendah yang berasal dari makanan, merokok dan sumber-sumber
lain. Orang dapat terkena sianida yang mematikan yang berasal dari kecelakaan,
bunuh diri atau pembunuhan. Menghirup gas sianida, terutama di ruang tertutup,
menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Konsumsi makanan dan minuman yang
mengandung sianida juga dapat berpengaruh serius terhadap kesehatan.
Selama ribuan
tahun, sianida telah digunakan sebagai racun. Sejak zaman Mesir kuno, beberapa
tanaman mengandung derivat sianida, seperti kacang almond pahit, biji ceri,
biji buah persik, dan singkong, telah digunakan sebagai racun mematikan (Sykes,
1981). Biji buah persik digunakan dalam eksekusi peradilan oleh orang Mesir
kuno yang dipajang di Museum Louvre, Paris, dan papirus Mesir mengacu pada
"hukuman persik." Bangsa Romawi menggunakan biji ceri sebagai metode
eksekusi (juga dikenal sebagai "kematian ceri"). Untuk pertama
kalinya sianida diproduksi secara terang-terangan dengan bertujuan untuk
membunuh selama Perang Dunia I, pada akhir tahun 1915 dan awal tahun 1916
(Baskin et al., 2008).
B.
TUJUAN
·
Untuk
mengetahui kadar timbal (Pb) yang terdapat pada ubi kayu goreng.
·
Untuk
mengetahui kadar Sianida (CN) yang terdapat pada Keloak.
C.
CARA KERJA
1)
TIMBAL
(Pb)
Ø Alat :
·
Gelas
ukur
·
Erlenmeyer
·
Timbangan
digital
·
Spectroquant
nova 60
·
Gelas
ukur 5 ml
·
Mortal
dan pastle
Ø Bahan :
1. Sampel (Ubi kayu goreng)
2. Aquadest
3. Reagen pb
Ø Prosedur Pemeriksaan
1. Timbang sampel ubi kayu goring
sebanyak 10 gr
2. Ambil aquadest sebanyak 50 ml ke
dalam gelas ukur
3. Kemudian haluskan sampel dengan
menggunakan mortal dan pastle
4. Berikan aquadest sedikit demi
sedikit sebanyak 50 ml hingga halus
5. Masukkan sampel kukis sebanyak 5 ml
dan simpan kembali ke dalam gelas ukur 50 ml dan di aduk.
6. Kemudian reagen pb sebanyak 3 tetes
dan masukkan sampel pada Spectroquant nova 60
7. Amati hasil.
2)
SIANIDA (CN)
Ø Alat
1. Mortal dan
pestle
2. Gelas ukur
3. Erlenmeyer
4. Timbangan
5. Sianida test
Ø Bahan
1. Sampel Keloak
2. Reagen CN-1A,
C-N2A, CN-3A
3. Aquadest
Ø Prosedur Pemeriksaan
1. Timbang sampel
sebanyak 25 gram
2. Haluskan sampel
menggunakan Mortal dan pestle
3. Masukkan sampel
yang telah halus ke dalam gelas ukur
4. Masukkan
aquades sebanyak 50 ml ke gelas ukur, aduk agar homogen
5. Setelah itu
masukkan sampel kedalam tabung sebanyak 5 ml
6. Tambahkan
CN-1A1 satu sendok kemudian goyangkan
7. Tambahkan CN-2A
satu sendok kemudian goyangkan
8. Tambahkan CN-3A
3 tetes kemudian goyangkan lalu tutup tabung
9. Masukkan blanko
dan sampel ke dalam sianida test tunggu sampai 5 menit
10. Bandingkan
sampel pada warna pada sianida test
D. HASIL
a.
Pemeriksaan Timbal (Pb) pada Ubi
kayu goreng
Sampel : Ubi kayu goreng
Jenis
pemeriksaan : Timbal (Pb)
Tanggal
pengambilan : Selasa, 06 Maret 2018
Pukul : 13.00 WITA
Tempat : Jalan Wijaya Kusuma I (Depan BTKL Makassar)
Pada
pemeriksaan yang kami lakukan di Lab. Mikrobiologi Poltekkes Kemenkes Makassar
Jurusan Kesehatan Lingkungan, kami memperoleh hasil sbb :
Pb = 13,37 mg/kg (Hasil
deteksi alat Food Contaminant Kit)
Untuk 1 x pengenceran, 1 x
pengenceran = 5
Pb = 13,37 x 5 = 66,85 mg/kg
b.
Pemeriksaan Sianida (CN) pada Keloak
Sampel : Keloak
Jenis
pemeriksaan : Sianida (CN)
Tanggal
pengambilan : Selasa, 06 Maret 2018
Pukul : 12.00 WITA
Tempat :
Pasar pa’baeng-baeng took/kios ke-6
Pada
pemeriksaan yang kami lakukan di Lab. Mikrobiologi Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan
Kesehatan Lingkungan, kami memperoleh hasil sbb :
CN = 0,03 mg/kg (Hasil deteksi
alat Food Contaminant Kit)
Untuk 5 x pengenceran
CN = 0,03 x 5 = 0,15 mg/kg
= 0,15 x 5 = 0,75 mg/kg
E. ANALISA
HASIL
a) Pemeriksaan Timbal (Pb) pada Ubi
Kayu Goreng
Pada saat pembelian sampel kami mengamati bahwa minyak goreng yang
digunakan sudah berubah warna (cokelat kehitaman). Adapun wadah penggorengannya
digunakan untuk semua jenis gorengan dan dari kondisi lingkungan penjualan
tidak menggunakan penutup makanan, sehingga mudah tercemar oleh asap kendaraan
yang berlalu lalang. Dan perilaku penjualnya yang kurang bersih karena
diperhatikan dari cara pembuatannya yang tidak Hygienis.
b) Sianida (CN)
Pada saat pembelian sampel kami mengamati bahwa lokasi atau tempat
penjualan keloak di pasar tidak hygienis dikarenakan lokasinya sangat
berdekatan dengan penjual lain dan sangat berdesak-desakan dari penjual ikan,
sayuran, dan bahan bumbu, lapak penjualannya sangat dekat. Hal itu
mengakibatkan bahan-bahan yang mudah tercemar akan dengan cepat tercampur oleh
bahan yang tidak steril termasuk sianida, sama halnya dengan sampel keloak yang
kami ambil. Warna pada sampel keloak itu juga begitu mencurigakan karena
terlihat sangat gelap dan pekat. Sehingga kami memilih dan mengambil sampel
tersebut untuk diperiksa.
F. KESIMPULAN
a)
Timbal (Pb)
Berdasarkan praktikum pemeriksaan ubi kayu
goreng dari sampel yang kami beli di Jalan wijaya kusuma I, hasilnya positif
mengandung Pb = 66,85 mg/kg melebihi ambang
batas pencemaran karena
pada standar SNI 2009 untuk logam berat yaitu 0,5
mg/kg. Jadi kami menyimpulkan bahwa sampel ubi kayu goreng yang kami periksa
tidak baik untuk dikonsumsi bagi kesehatan Karena telah melewati standar Pb
yang telah ditentukan.
b)
Sianida (Cn)
Berdasarkan praktikum pemeriksaan keloak dari sampel yang
kami beli di Pasar Pa’baeng-baeng, hasilnya positif mengandung Sianida (CN)
sebanyak 0,75 mg/kg. dan telah melebihi
ambang batas pencemaran karena pada SNI 2009 kandungan zat sianida yang
di perbolehkan yakni tidak boleh melebihi dari 1,0 mg/kg. Jadi kami menyimpulkan bahwa sampel kaloak yang kami periksa tidak
baik untuk dikonsumsi bagi kesehatan Karena telah melewati standar CN yang
telah ditentukan.
G. SARAN
Sebaiknya dalam membeli
makanan di pinggir jalan maupun di pasar lebih memperhatikan kondisi barang
yang akan dibeli terutama lokasi atau tempat penjualannya apakah dapat
terkonaminasi zat-zat berbahaya atau beracun seperti timbal maupun sianida,
karena sebagai masyarakat kita harus lebih jeli dalam memperhatikan ketika akan
membeli sesuatu. Karena bisa saja makanan dan minuman yang kita beli
terkontaminasi oleh zat beracun termasuk diantaranya logam berat.
H. DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar