Jumat, 23 Maret 2018

LAPORAN PEMERIKSAAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN SIANIDA (Cn) PADA MAKANAN-Kesehatan lingkungan-poltekkes makassar

MATA KULIAH   : PMM-A (Penyehatan Makanan dan Minuman-A)
DOSEN                  : Khiki Purnawati Kasim, S.ST., M.Kes

 LAPORAN PEMERIKSAAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN SIANIDA (Cn) PADA MAKANAN”








Oleh :


DWI PUTRI AFRIANI
Po.71.4.221.16.1.043
D.IV / II.B

KELOMPOK 4

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D-IV
2018




LAPORAN PEMERIKSAAN TIMBAL (Pb) DAN SIANIDA (Cn) PADA MAKANAN

A.    DASAR TEORI
Logam berat adalah unsur-unsur kimia bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak disudut kanan bawah system periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsure S biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7 (mietinnen, 1977).
Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya. Afinitas yang tinggi terhadap unsure S menyebabkan logam ini menyerang ikatan berelang dalam enzim, sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif.
Logam berat yang masuk kedalam system perairan, baik di sungai maupun dilautan akan dipindahkan dari badan airnya melalui organism-organisme perairan (Bryan, 1976).

1.      Timbal (Pb)
Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian utama dalam segi kesehatan, karena dampaknya pada sejumlah besar orang akibat keracunan makanan atau udara yang terkontaminasi Pb memiliki sifat toksik berbahaya. Timbal bisa terkandung di dalam air, makanan, dan udara. Pb di atmosfer berasal dari senyawa hasil pembakaran bensin reguler dan premium yang tidak sempurna.
         Logam berat timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah jenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari pertambangan.
         Pb adalah logam berat yang terdapat secara alami di kerak bumi. Keberadaan timbal bisa juga berasal dari hasil aktivitas manusia, yang mana jumlahnya 300 kali lebih banyak dibandingkan Pb alami yang terdapat pada kerak bumi. Pb terkonsentrasi dalam deposit bijih logam. Unsure Pb digunakan dalam bidang industri  modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang tahan korosi, bahan pembuat cat, baterai, dan campuran bahan bakar bensin tetraetil. Timbale (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang toksik (beracun) terhadap manusia. Timbale (Pb) dapat masuk kedalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.

2.      Sianida (Cn)
Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung (C=N), yang terdiri dari 3 buah atom karbon yang berikatan dengan atom hidrogen. Secara spesifik, sianida adalah anion CN-. Senyawa ini ada dalam bentuk gas, liquid dan solid, setiap senyawa tersebut dapat melepaskan anion CN- yang sangat beracun. Sianida dapat terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia dan memiliki sifat racun yang sangat kuat dan bekerja dengan cepat. Contohnya adalah HCN (hidrogen sianida) dan KCN (kalium sianida) Sianida terdiri dari banyak senyawa dengan berbagai tingkat kompleksitas kimia dan toksisitas, kesemuanya mengandung gugus CN, saat manusia dihadapkan dalam gas, cair, dan bentuk padat dari berbagai sumber alam dan antropogenik. Setiap hari, orang dapat terkena sianida tingkat rendah yang berasal dari makanan, merokok dan sumber-sumber lain. Orang dapat terkena sianida yang mematikan yang berasal dari kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Menghirup gas sianida, terutama di ruang tertutup, menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung sianida juga dapat berpengaruh serius terhadap kesehatan.
Selama ribuan tahun, sianida telah digunakan sebagai racun. Sejak zaman Mesir kuno, beberapa tanaman mengandung derivat sianida, seperti kacang almond pahit, biji ceri, biji buah persik, dan singkong, telah digunakan sebagai racun mematikan (Sykes, 1981). Biji buah persik digunakan dalam eksekusi peradilan oleh orang Mesir kuno yang dipajang di Museum Louvre, Paris, dan papirus Mesir mengacu pada "hukuman persik." Bangsa Romawi menggunakan biji ceri sebagai metode eksekusi (juga dikenal sebagai "kematian ceri"). Untuk pertama kalinya sianida diproduksi secara terang-terangan dengan bertujuan untuk membunuh selama Perang Dunia I, pada akhir tahun 1915 dan awal tahun 1916 (Baskin et al., 2008).


B.     TUJUAN
·         Untuk mengetahui kadar timbal (Pb) yang terdapat pada ubi kayu goreng.
·         Untuk mengetahui kadar Sianida (CN) yang terdapat pada Keloak.




C.    CARA KERJA
1)       TIMBAL (Pb)
Ø  Alat :
·         Gelas ukur
·         Erlenmeyer
·         Timbangan digital
·         Spectroquant nova 60
·         Gelas ukur 5 ml
·         Mortal dan pastle
Ø  Bahan :
1.      Sampel (Ubi kayu goreng)
2.      Aquadest
3.      Reagen pb
Ø  Prosedur Pemeriksaan
1.      Timbang sampel ubi kayu goring sebanyak 10 gr
2.      Ambil aquadest sebanyak 50 ml ke dalam gelas ukur
3.      Kemudian haluskan sampel dengan menggunakan mortal dan pastle
4.      Berikan aquadest sedikit demi sedikit sebanyak 50 ml hingga halus
5.      Masukkan sampel kukis sebanyak 5 ml dan simpan kembali ke dalam gelas ukur 50 ml dan di aduk.
6.      Kemudian reagen pb sebanyak 3 tetes dan masukkan sampel pada Spectroquant nova 60
7.      Amati hasil.


2)      SIANIDA (CN)
Ø  Alat
1.      Mortal dan pestle
2.      Gelas ukur
3.      Erlenmeyer
4.      Timbangan
5.      Sianida test
Ø  Bahan
1.      Sampel Keloak
2.      Reagen CN-1A, C-N2A, CN-3A
3.      Aquadest
Ø  Prosedur Pemeriksaan
1.      Timbang sampel sebanyak 25 gram
2.      Haluskan sampel menggunakan Mortal dan pestle
3.      Masukkan sampel yang telah halus ke dalam gelas ukur
4.      Masukkan aquades sebanyak 50 ml ke gelas ukur, aduk agar homogen
5.      Setelah itu masukkan sampel kedalam tabung sebanyak 5 ml
6.      Tambahkan CN-1A1 satu sendok kemudian goyangkan
7.      Tambahkan CN-2A satu sendok kemudian goyangkan
8.      Tambahkan CN-3A 3 tetes kemudian goyangkan lalu tutup tabung
9.      Masukkan blanko dan sampel ke dalam sianida test tunggu sampai 5 menit
10.  Bandingkan sampel pada warna pada sianida test



D.    HASIL
a.      Pemeriksaan Timbal (Pb) pada Ubi kayu goreng
Sampel                              : Ubi kayu goreng
Jenis pemeriksaan              : Timbal (Pb)
Tanggal pengambilan        : Selasa, 06 Maret 2018
Pukul                                 : 13.00 WITA
Tempat                              : Jalan Wijaya Kusuma I (Depan BTKL Makassar)
Pada pemeriksaan yang kami lakukan di Lab. Mikrobiologi Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Kesehatan Lingkungan, kami memperoleh hasil sbb :
                  Pb = 13,37 mg/kg (Hasil deteksi alat Food Contaminant Kit)
                  Untuk 1 x pengenceran, 1 x pengenceran = 5
                  Pb = 13,37 x 5 = 66,85 mg/kg
b.      Pemeriksaan Sianida (CN) pada Keloak
Sampel                              : Keloak
Jenis pemeriksaan              : Sianida (CN)
Tanggal pengambilan        : Selasa, 06 Maret 2018
Pukul                                 : 12.00 WITA
Tempat                              : Pasar pa’baeng-baeng took/kios ke-6
Pada pemeriksaan yang kami lakukan di Lab. Mikrobiologi Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Kesehatan Lingkungan, kami memperoleh hasil sbb :
                  CN = 0,03 mg/kg (Hasil deteksi alat Food Contaminant Kit)
Untuk 5 x pengenceran
                  CN = 0,03 x 5 = 0,15 mg/kg
                         = 0,15 x 5 = 0,75 mg/kg



E.     ANALISA HASIL
a)      Pemeriksaan Timbal (Pb) pada Ubi Kayu Goreng
Pada saat pembelian sampel kami mengamati bahwa minyak goreng yang digunakan sudah berubah warna (cokelat kehitaman). Adapun wadah penggorengannya digunakan untuk semua jenis gorengan dan dari kondisi lingkungan penjualan tidak menggunakan penutup makanan, sehingga mudah tercemar oleh asap kendaraan yang berlalu lalang. Dan perilaku penjualnya yang kurang bersih karena diperhatikan dari cara pembuatannya yang tidak Hygienis.
b)      Sianida (CN)
Pada saat pembelian sampel kami mengamati bahwa lokasi atau tempat penjualan keloak di pasar tidak hygienis dikarenakan lokasinya sangat berdekatan dengan penjual lain dan sangat berdesak-desakan dari penjual ikan, sayuran, dan bahan bumbu, lapak penjualannya sangat dekat. Hal itu mengakibatkan bahan-bahan yang mudah tercemar akan dengan cepat tercampur oleh bahan yang tidak steril termasuk sianida, sama halnya dengan sampel keloak yang kami ambil. Warna pada sampel keloak itu juga begitu mencurigakan karena terlihat sangat gelap dan pekat. Sehingga kami memilih dan mengambil sampel tersebut untuk diperiksa.



F.     KESIMPULAN
a)      Timbal (Pb)
Berdasarkan praktikum pemeriksaan ubi kayu goreng dari sampel yang kami beli di Jalan wijaya kusuma I, hasilnya positif mengandung Pb = 66,85 mg/kg melebihi ambang batas pencemaran karena pada standar SNI 2009 untuk logam berat yaitu 0,5 mg/kg. Jadi kami menyimpulkan bahwa sampel ubi kayu goreng yang kami periksa tidak baik untuk dikonsumsi bagi kesehatan Karena telah melewati standar Pb yang telah ditentukan.
b)      Sianida (Cn)
 Berdasarkan praktikum pemeriksaan keloak dari sampel yang kami beli di Pasar Pa’baeng-baeng, hasilnya positif mengandung Sianida (CN) sebanyak 0,75 mg/kg. dan telah melebihi ambang batas pencemaran karena pada SNI 2009 kandungan zat sianida yang di perbolehkan yakni tidak boleh melebihi dari 1,0 mg/kg. Jadi kami menyimpulkan bahwa sampel kaloak yang kami periksa tidak baik untuk dikonsumsi bagi kesehatan Karena telah melewati standar CN yang telah ditentukan.



G.    SARAN
Sebaiknya dalam membeli makanan di pinggir jalan maupun di pasar lebih memperhatikan kondisi barang yang akan dibeli terutama lokasi atau tempat penjualannya apakah dapat terkonaminasi zat-zat berbahaya atau beracun seperti timbal maupun sianida, karena sebagai masyarakat kita harus lebih jeli dalam memperhatikan ketika akan membeli sesuatu. Karena bisa saja makanan dan minuman yang kita beli terkontaminasi oleh zat beracun termasuk diantaranya logam berat.



H.    DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar